Senin, 03 September 2012

Kisah Cinta Segi Tiga

Kisah Cinta Segi Tiga

Kisah Cinta Segi Tiga


Pagi belum lagi membuka matanya. Masih gelap di luar.

DEE merapatkan diri pada suaminya. Kuti dengan segera mengerti, istrinya ingin dipeluk. Dan dia tak pernah keberatan untuk meluluskan keinginan itu.

Dengan senang hati, Dee menikmati kehangatan pelukan suaminya.

Lalu, tiba- tiba saja dia teringat pada sebuah film yang ditontonnya di televisi kemarin malam..

“ ‘yang… “ Dee mengajak Kuti mengobrol

“ Mmm… “ jawab Kuti

“ Membuat pilihan itu memang tidak pernah mudah, ya… “ kata istrinya.

Kuti melirik sang istri. Mencoba menebak, mengapa istrinya mengajaknya bicara tentang sebuah pilihan.

“ Ya, “ jawab Kuti, “ Tidak mudah terutama kalau pilihannya sulit. Dua- duanya menyenangkan, misalnya, atau keduanya tidak menyenangkan… “

Dee mengangguk.

“ Itu… seperti yang di film kemarin itu…”

Film?

Oh, Kuti mengerti kini. Walau dia sendiri hanya melihat sekilas- sekilas apa yang ditayangkan di televisi, dia dapat menangkap jalan ceritanya.

Ada bumbu cerita cinta segitiga dalam film itu. Melibatkan dua orang gadis dan seorang pemuda lajang. Ada rencana pernikahan yang terhambat karena lebih dari dua orang yang terlibat dan pilihan siapa yang akan menikah dengan siapa menjadi rumit.

Terdengar suara Dee kembali berkata- kata

“ Itu sebabnya ‘yang, selama ini aku tak pernah percaya pada faham ‘selama janur kuning belum melengkung’ itu… “

Kuti tersenyum.

Bahwa istrinya tak sependapat dengan faham ‘selama janur kuning belum melengkung’ bagi para lajang atau faham populer lain ‘ everything is fair in love and war’, tentu saja Kuti sudah tahu sejak lama.

Ribuan kali Dee mengatakan hal itu.

Ribuan kali pula Dee selalu mengatakan bahwa menurut pendapatnya, selalu ada batas antara yang fair dan tidak. Sebab menurutnya, selalu ada aturan tentang suatu kepantasan.

‘Sepanjang janur kuning belum melengkung’ menurut Dee adalah pendapat yang kurang tepat. Dalam hubungan antar manusia yang melibatkan rasa, maka setiap orang harus mempertimbangkan kepentingan orang lain serta menghormati komitmen yang pernah diberikan.

“ Pada akhirnya, “ terdengar suara Dee, “ hubungan cinta segitiga seperti yang diceritakan dalam film itu hanya akan menyakiti semua pihak… “

“ Jika ketiganya adalah orang- orang baik yang halus perasaannya, maka kesakitan dan luka itu akan menjadi lebih dalam. Karena itulah, hal- hal seperti itu seharusnya dihindarkan sejak awal…” Dee melanjutkan komentarnya.

Kuti tersenyum.

“ Tapi tidak selalu mudah untuk mengendalikan perasaan Dee, “ kata Kuti, “ Kadang- kadang tanpa disadari, orang jatuh cinta begitu saja pada seseorang, dan jatuh cintanya dalam… Begitu saja terjadinya, tanpa rencana… “

Dee mengangguk.

“ Aku mengerti, “ katanya. “ Cinta memang bisa muncul begitu saja. Aku mengerti… Tapi… manusia juga diberi logika. Dan saat jatuh cinta, orang tak boleh membutakan diri dan mematikan nalarnya. Pada saat- saat seperti ini, logika seharusnya bisa berperan dan menjadi rem untuk mengendalikan tindakan… “

Ah… pikir Dee, membuat pilihan memang tak pernah mudah. Apalagi jika menyangkut urusan- urusan hati.

***

Suasana menjadi sunyi sejenak. Tak ada yang berkata- kata.

Dan setelah sekian lama, terdengar suara Kuti.

“ Dee, “ kata Kuti, “ Ingat nggak cerita yang kamu pernah tulis dulu? “

“ Yang mana? “ tanya Dee. Dia menulis banyak cerita, dan entah yang mana yang dimaksud suaminya.

“ Tentang seseorang yang mempertanyakan mengapa mereka tak dipertemukan lebih awal itu… “

Oh itu.

Dee mengangguk. Ya, tentu saja dia ingat cerita berseri itu. Ingat pula beberapa baris kalimat yang dia tuliskan ketika itu…

Long long time ago, in a galaxy far far away…

Suara ombak berdebur di pantai. Bintang gemerlapan di atas langit.

Dua hati, milik seorang gadis dan seorang lelaki gagah mempertanyakan hal yang sama : kalau saja mereka dipertemukan lebih dahulu, akankah ceritanya berbeda ?

Atau, haruskah saat ini, mereka berusaha merancang akhir kisah mereka sendiri ?

Bolehkah? Atau tidak?

“ Ingat nggak komentar aku dulu? “ kata Kuti lagi.

Dee mengingat- ingat apa kata sang suami tentang tulisan itu, dan dia tersenyum. Saat itu, sang suami  mengatakan bahwa tulisan Dee akan tampak aneh di jaman seperti ini. Dee menulis tentang seorang gadis lajang yang gelisah sekali sebab dia mencintai dan dicintai oleh seorang lelaki yang kebetulan telah memiliki kekasih, padahal…

“ Hari gini, Dee… “ kata Kuti, “ Orang banyak bicara tentang selingkuh dalam pernikahan, kamu masih nulis kegelisahan para lajang begitu. Yang mungkin sudah tak lagi dipikirkan oleh kebanyakan orang. Sebab saat lajang, bisa dikatakan orang masih tidak terikat secara formal, kan, walau dia memiliki kekasih. Artinya jika dia berpaling pada orang lainpun… “

Kuti membiarkan kalimatnya menggantung. Tapi bagaimanapun, Dee mengerti apa yang dimaksud. Dan Dee ingat bagaimana dia bersikeras bahwa bagaimanapun menurutnya hal itu tak dapat dibenarkan. Sebab tetap saja itu akan menyakiti hati seseorang.

“ Entahlah, “ kata Dee, “ Orang mungkin beda- beda. Tapi aku tak dapat membayangkan menikah dengan seseorang yang direbut dari kekasihnya seperti itu. Jangan- jangan sepanjang pernikahan ada perasaan bersalah yang akan terus menghantui? “

Ah, pikir Dee, menurutnya, bagaimanapun, selalu ada etika yang harus dipatuhi ketika orang dihadapkan pada pilihan dan langkah yang sulit. Dan seringkali keinginan harus dikalahkan untuk suatu kepatutan sikap.

Bagaimanapun, Dee selalu percaya, saat seseorang berusaha untuk meluruskan sikap, walau mungkin ada nyeri di hati, tak pernah hal tersebut menjadi sia- sia. Selalu ada jalan terang di depan. Selalu akan ada ganti yang lebih baik menanti…

***

Di luar, suara cericit burung terdengar. Pagi telah datang. Sebentar lagi mereka semua sudah harus kembali beraktivitas.

Tapi…

“ ‘yang… “ terdengar suara Dee

“ Ya? “ tanya Kuti

“ Sudah pagi. Tapi… “

“ Tapi apa? “ tanya suaminya

“ Jangan turun dulu dari tempat tidur. Peluk aku dulu sebentar lagi. Semenit lagiiii saja… “

Kuti tertawa. Dia memeluk istrinya lebih erat sambil diacak- acaknya rambut sang istri seraya tersenyum hangat penuh rasa sayang…

0 komentar:

Poskan Komentar

 

Labels

Labels

Labels